Kepunahan Orangutan Sumatera adalah Tanggung Jawab Kita Bersama!

3 May 2012

Tetes air mata mengalir ketika saya membaca artikel VOA mengenai Kepunahan Orangutan Sumatera! Para pelindung satwa liar memperingatkan bahwa ratusan orangutan di Indonesia dipastikan akan punah akhir tahun 2012 ini! Sungguh berita ini sangat mengejutkan kita semua karena terhitung akhir tahun 2012 tinggal beberapa bulan lagi. Apakah masih ada cukup waktu untuk menyelamatkan orangutan? Tampaknya hal tersebut mustahil… Dalam artikel VOA tersebut disebutkan bahwa Ian Singleton, Direktur Program Perlindungan Orangutan Sumatera, mengatakan orangutan Sumatera yang hidup di hutan Tripa di sepanjang pantai Provinsi Aceh hampir tidak bisa bertahan. Kelompok Pelindung Orangutan Sumatera mengatakan hanya tinggal kurang dari 200 orangutan yang tersisa di Tripa saat ini. Pada 1990-an jumlahnya masih sekitar 3.000. Ini berarti populasi orangutan sudah merosot jauh hingga hanya tersisa 6,7% dari populasi semula.

Laju penghancuran, pembakaran, dan semuanya ini meningkat pesat dalam beberapa minggu belakangan, tidak termasuk tahun lalu. Ini jelas dilakukan secara sengaja oleh perusahaan-perusahaan ini untuk membersihkan semua hutan yang tersisa di provinsi-provinsi itu. Sekarang, setelah mereka melakukan itu, semuanya punah, paparnya.

Perluasan lahan sahit yang sangat agresif dalam beberapa tahun belakangan ini memang berhasil menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil minyak sawit mentah nomor 1 di dunia. Namun, keberhasilan di sektor ekspor komoditas ini harus kita bayar dengan harga yang sangat mahal, punahnya satwa endemik Indonesia, orangutan! Berikut perlu kita analisis lebih lanjut penyebab kepunahan orangutan:

1. Kerusakan Hutan Indonesia 28 Juta Hektar, Seluas Negara Filipina!

Gambar di samping kiri adalah laju deforestasi Indonesia yang sangat cepat. Miris rasanya ketika 5 tahun lalu, tahun 2007, kita melihat iklan layanan masyarakat mengenai kerusakan hutan di Indonesia namun sampai sekarang tidak ada langkah hukum yang tegas yang dilakukan pemerintah. Dalam iklan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan tersebut disebutkan bahwa laju perusakan hutan Indonesia adalah 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam satu jam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak. Padahal hutan ini tidak bisa dibuat lagi oleh manusia karena merupakan proses alam yang terjadi selama ratusan tahun. Perambahan hutan yang tak terkendali untuk perkebunan sawit dituding sebagai penyebab nomor satu deforestasi. Pemerintah daerah dengan gampangnya memberikan konsesi sawit ke para pengusaha. Akibatnya deforestasi Indonesia tidak terbendung lagi.

Padahal di sisi lain, luas hutan Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah hutan di Amerika Selatan. Kondisinya saat ini adalah rata-rata laju deforestasi hutan di Indonesia dari tahun 1990 sampai 2010 mencapai 1,2 juta hektar per tahun. Dari tahun 1990 hingga 2005 luas hutan di Indonesia telah berkurang seluas 28 juta hektar atau seluas negara Filipina. Hutan tropis maupun hutan gambut tidak sama dengan hutan tanam industri. Perkebunan sawit tidak pantas disebut hutan. Biar bagaimana pun ekosistem yang heterogen tidak mungkin bisa digantikan dengan ekosistem yang homogen. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kerugian negara akibat kerusakan hutan mencapai Rp 180 triliun. Apakah 180 triliun ini sebanding dengan ekspor sawit kita? Tentu tidak. Uang bisa dicari namun hutan yang hilang serta satwa yang punah tidak mungkin bisa dikembalikan lagi. Sesal kemudian tidak berguna.

Bank Dunia sendiri sangat serius menanggapi isu deforestasi Indonesia. Bank Dunia sempat menghentikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit pada September 2009 akibat perusakan lingkungan yang sangat parah di hutan Sumatra dan Kalimantan. Lembaga swadaya internasional Greenpeace dan World Wildlife Foundation (WWF) juga ikut menyerang industri kelapa sawit dengan menyebut Palm oil: enemy number one of Indonesia’s tropical rainforests.

2. Orang Utan Dianggap Hama Sawit

Selamat datang perkebunan sawit, selamat tinggal orang utan! Itulah harga yang harus dibayar untuk primadona ekspor Indonesia ini. Perluasan lahan sawit mau tidak mau merusak habitat orang utan, beruang dan harimau. Tidak tanggung-tanggung, orangutan bisa tiba-tiba masuk ke rumah penduduk untuk mencuri nasi. Hal ini mereka lakukan karena memang sudah tidak ada makanan lagi karena hutan mereka sudah dirusak. Beruang dan harimau juga sudah kehilanggan tempat tinggalnya, akhirnya penduduk sipil merasa jiwanya terancam dari hari ke hari. Orang utan pun dibantai secara keji atas perintah para pengusaha sawit agar tidak mencuri buah sawit. Satu ekor orang utan dihargai 500 ribu sampai 1 juta rupiah oleh para pengusaha sawit! Padahal tidak ada maksud orang utan dan satwa liar lainnya mengganggu perkebunan sawit serta rumah penduduk. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Habitat mereka telah dirusak oleh manusia. Manusia telah menjadi monster bagi alam, tahun 2011 saja Washington Post mencatat 750 orang utan terbunuh di Kalimantan. Padahal orang utan adalah satwa endemik Indonesia dan satu-satunya habitat asli mereka adalah Indonesia.

3. Akibatnya Sawit Indonesia Ditolak Amerika Serikat

Sejak 28 Januari 2012 lalu ekspor produk kelapa sawit asal Indonesia ditolak masuk ke Amerika Serikat (AS) karena tudingan tidak ramah lingkungan dan membahayakan habitat orangutan. Keputusan AS tersebut diambil setelah negara adidaya tersebut menerima pengaduan Environmental Protection Agency, otoritas setempat yang perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup. Penolakan AS ini tentu membuat daya saing kelapa sawit Indonesia melemah. Oleh karena itu, wajar jika Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, turut berang. Namun menyalahkan dan mengkambinghitamkan AS atas boikot ini adalah tindakan yang tidak tepat. Janganlah buruk rupa cermin dibelah. Jauh lebih arif pemerintah turun langsung ke lapangan untuk melihat betapa peralihan lahan perkebunan sawit telah merusak habitat orangutan dan satwa liar lainnya.

Kepunahan Orangutan Diangkat ke Layar Lebar Hollywood
Sungguh ironis memang, di saat sebagian besar orang Indonesia tidak peduli akan kepunahan orangutan, para aktivis lingkungan hidup Amerika Serikat justru bekerjasama dengan Warner Bros Pictures untuk mengangkat isu ini ke layar lebar berjudul Born to Be Wild. Tak tanggung-tanggung, film ini dinarasikan oleh salah satu artis Hollywood papan atas, Morga Freeman. Itikad baik ini perlu kita dukung bersama, supaya semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya kelestarian satwa liar. Semoga saja banyak sineas Indonesia ke depannya yang peduli untuk mengangkat isu kepunahan orangutan ke layar lebar juga.


TAGS Youth Empowerment cinta


-

Author

Follow Me