Korelasi Kekuatan Ekonomi Negara dengan Kebebasan Berekspresi

6 Jan 2012

Beruntung kita hidup di Indonesia, kita bisa hidup bebas sebebasnya. Bukan hanya tahanan Lembaga Pemasyarakatan bisa lenggang kangkung kabur dari penjara untuk menonton pertandingan tenis di Bali namun kita juga bisa menulis apa saja di blog kita. Di republik ini juga para manusianya bebas sebebasnya mengatai-ngatai menteri atau presidennya. Hal ini tidak hanya terjadi di media blog namun juga di forum online maupun media sosial lainnya. Itulah bebas sebebasnya! Keadaan ini berbanding terbalik dengan di Cina. Bandingkan dengan kehidupan para blogger di Republik Rakyat Cina yang mengenaskan dan terpenjara untuk mengekspresikan pendapatnya di media sosial. Bahkan bukan hanya blogger yang dipasung, di Cina para portal milik media massa nasional pun dipantau sangat ketat. Hasilnya? Cina baru saja menjadi kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia mengalahkan Jepang per 2011 lalu. Cina yan 10 tahun lalu masih tercatat sebagai negara miskin kini tiba-tiba saja menyodok menjadi kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia? BAM! Kaget kan Anda semua? Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah ada korelasi antara pemasungan media dengan kekuatan ekonomi negara? Mari kita simak penuturan berikut.

Korelasi Kekuatan Ekonomi Negara dengan Kekebasan Ekspresi

Menarik mencermati korelasi kekuatan ekonomi negara-negara di dunia dengan kebebasan berekspresi. Apakah kebebasan berekspresi terbukti menghambat laju perekonomian suatu negara? Dalam batas apa kebebasan berekspresi bisa dianggap wajar? Kebebasan berkekspresi apa yang bisa ikut memajukan perekonomian negara kita? Apakah kebebasan berekspresi perlu dibatasi?

Siapakah Pembunuh Nomor 1 di Dunia?

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa kelaparan adalah pembunuh nomor 1 di dunia. Kematian yang diakibatkan oleh epidemi kelaparan jauh melebihi total korban gabungan yang meninggal akibat penyakit AIDS, kanker, jantung tuberkolosis serta malaria! Sungguh sangat mengejutkan ketika saya menonton Laporan Voice of America (VOA) di Youtube pada tanggal 11 Desember 2011 dengan judul Krisis Membuat Harga Pangan Global Cenderung Naik. Analis mengatakan harga pangan dunia akan terus meningkat apabila negara-negara tidak berinvestasi di bidang pertanian dan produksi pangan demi mendorong naiknya pasokan bahan pangan. Masalahnya penduduk dunia terus bertambah dan mencapai 7 milyar pada tahun 2011, sementara hal ini tidak diimbangi oleh peningkatan pasokan pangan.

Bagi kita yang sudah bisa menikmati koneksi internet serta bebas berekspresi di jejaring sosial tentu tidak pernah merasakan bagaimana tidur dalam keadaan lapar. Namun tahukah kamu berapa banyak orang di dunia yang tidur dalam perut kosong setiap harinya? Apakah ada 10 juta orang? Atau 100 juta orang? Dalam artikel VOA yang lain disebutkan bahwa krisis pangan akibatkan 1 milyar orang lebih tidur dalam keadaan lapar. Tentu angka 1 milyar ini bukanlah angka yang sedikit. Itu berarti ada 1 dari setiap 7 orang yang menderita kelaparan. Kita termasuk orang yang sangat beruntung jika kita termasuk dalam 6 orang yang tidak menderita kelaparan. Namun dengan adanya krisis dunia yang kini sedang menimpa berbagai negara maju dan berkembang, akibatnya harga pangan terus meroket setiap hari. Apakah mungkin suatu hari nanti bahan pangan menjadi barang yang mewah dan langka? Jawabannya tentu mungkin saja.

Direktur Pelaksana Bank Dunia untuk Asia, Sri Mulyani, mengatakan krisis pangan yang melanda dunia membuat gejolak harga pangan semakin tidak menentu dan menyebabkan sedikitnya 44 juta warga baru masuk ke dalam kelompok orang miskin. Denga semakin banyaknya orang miskin dan naiknya harga pangan di dunia akibatnya tentu sudah bisa kita bayangkan, ke depannya akan semakin banyak keluarga yang mengurangi kualitas dan kuantitas nutrisi makanannya. Lantas apa yang kita bisa lakukan untuk menjadi bagian dari solusi kelaparan di negeri ini? Mari simak ide saya berikut.

Orang Indonesia 2 Kali Lebih Rakus daripada Orang Thailand

Baru-baru ini Menteri Perdagangan kita, Gita Wirjawan, dikejutkan oleh data konsumsi beras dalam negeri. Pernahkah kita mengitung berapa banyak beras yang kita konsumsi setiap tahun? Ternyata rata-rata 1 orang Indonesia mengkonsumsi beras sebanyak 140 kilogram per tahun! Angka ini sangat besar karena negara penghasil beras seperti Thailand saja ternyata setiap warganya hanya mengkonsumsi 70 kilogram beras per tahun! Negara tetangga kita Malaysia juga tidak terlalu rakus mengkonsumsi beras, yaitu hanya 90 kilogram per tahun. Pantas saja kita selalu kekurangan beras dan terus menerus melakukan impor beras dari tahun ke tahun. Kalau kita bisa kurangi 40 kilogram per orang saja, maka kita bisa menjadi eksportir beras terbesar di dunia,” ujar Gita Wirjawan. Menarik bukan?

Namun mengapa kita sebagai orang Indonesia begitu rakus? Apakah memang karena orang Indonesia 2 kali bekerja lebih keras daripada orang Thailand? Ternyata tidak! Hal ini disebabkan karena tidak adanya pendidikan mengenai nutrisi sembang sejak usia dini di Indonesia. Sejak kecil kita sudah dijejali dengan nasi, nasi, dan nasi tanpa pernah mengenal lebih jauh mengenai sumber-sumber karbohidrat yang lain. Saya pribadi sering sekali dikejutkan dengan banyaknya nasi yang disodorkan setiap kali saya makan di warung nasi campur, berkali-kali pula saya selalu mengatakan, Nasinya setengah saja, Bu. Saya tertegun melihat kenyataan sehari-hari ini, apakah karena harga beras di Indonesia terlalu murah sehingga warung-warung nasi campur ini rela memberikan nasi dalam porsi yang sangat besar? Memang dengan harga hanya 9.000 rupiah per kilogram harga beras kita termasuk yang paling murah di dunia. Namun hal ini tak lain karena adanya subsidi pemerintah sebesar 13 triliun setiap tahunnya. Tentu subsidi beras ini menjadi tidak tepat sasaran jika pola makan rata-rata orang Indonesia masih rakus!

Mari Kurangi Porsi Nasi Kita

Melihat data-data di atas, saya mengetuk hati nurani rekan-rekan untuk mulai mengurangi pola makan kita. Mari kita mengurangi porsi nasi kita. Mudah-mudahan kita bisa mengurangi konsumsi nasi kita hingga 40 kilogram per tahun supaya Indonesia bisa menjadi eksportir beras nomor 1 dunia. Usahakan yang biasa sarapan pagi dengan nasi diganti dengan singkong dan buah. Untuk makan siang boleh lan kita makan nasi setengah dari porsi nasi biasa kita. Lalu untuk makan malam biasakan mengkonsumsi umbi-umbian seperti ubi jalar sebagai karbohidrat pengganti nasi. Dengan mulai melakukan diversifikasi pola makan secara teratur maka kita bisa menghentikan impor beras yang tidak perlu. Dengan menghentikan impor beras artinya kita bisa keluar sebagai negara yang mandiri dan menghilangkan subsidi beras hingga 13 triliun rupiah! Tentu anggaran ini tidak sedikit dan bisa lebih efektif jika digunakan untuk perbaikan sarana kesehatan dan pendidikan di pelosok-pelosok Indonesia. Mari kita mulai dari hal yang kecil, dari diri kita sendiri

.

Prinsip Sepiring Berdua

Setelah kita berhasil mengurangi konsumsi nasi kita maka langkah selanjutnya barulah menurangi angka kelaparan di negeri ini. Dengan lebih dari 24 juta manusia Indonesia yang hidup dalam kelaparan itu berarti sepersepuluh dari penduduk di negeri ini. Tentu tidak sulit bagi setiap 9 orang di negeri ini yang mau menyisihkan penghasilannya setiap hari untuk membantu memberi makan 1 orang setiap harinya. Dengan prinsip sepiring berdua artinya kita mau membagikan sebagian makanan yang kita konsumsi setiap hari untuk 1 orang yang kelaparan setiap hari. Tentu hal ini tidak terlalu sulit bukan? Setiap 9 orang memberi makan 1 orang saja. Mari kumpulkan 9 temanmu dan jadikan hidup kita bermakna bagi orang lain! Abadikan momen bersejarah ini dan menangkan hadiah-hadiah menarik! Tunggu pengumuman lebih lanjut di blog ini.


TAGS Youth Empowerment Ekspresi Blogger Indonesia


-

Author

Follow Me